Archive for September, 2005

TOLAK KENAIKAN BBM

Tolak Kenaikan Harga BBM

 

Menaikkan harga BBM BUKAN merupakan
solusi tepat untuk menyelesaikan masalah bangsa.

 

BBM merupakan masalah yang sangat
mempengaruhi sisi psikologis masyarakat

Indonesia

, sedang permasalahan yang
lain apabila diperdebatkan tidak menjadi perbincangan hangat, mungkin karena
itu merupakan persoalan yang langsung menyentuh ke masyarakat.

 

Keputusan pemerintah untuk
menaikkan harga BBM bukan merupakan keputusan yang tepat untuk menyelesaikan
permasalahan bangsa saat ini. Bukan juga dengan pemberian dana kompensasi BBM
langsung ke rakyat miskin (katanya sih miskin, ngak tau yang buat laporan itu
siapa, mungkin saja dimanipulasi). Yang katanya kalo lewat birokrasi nantinya
di korupsi, dan sampainya ke masyarakat tidak sebanyak itu atau malah tidak
dikasih sama sekali. Pemberian langsung duit ke rakyat miskin Itu sama saya
menjerumuskan rakyat kita ke dalam jurang kemalasan dengan pemberian duit
sebanyak Rp. 100.000,- bukan solusi untuk mengurangi penduduk miskin tetapi
menjerat rakyat miskin. Apa pemerintah tidak punya keputusan yang CERDAS
untuk menyelesaikan permasalahan bangsa
?? Subsidi aja konsepnya ngak jelas…. Tidak merepresentatifkan semua keinginan
masyarakat.

 

Kenaikan harga BBM per 1 oktober
sampai 50 % atau katanya Jusuf Kalla sampai 80 %, dan dari anggota DPR RI
sendiri adem ayem menghadapi ini, ataukah mereka semua menjadi antek
pemerintah?? Keraskan suara Kita, suara rakyat

Indonesia

atau KEMBALIKAN SUARA
KAMI….

 

Kenaikan harga BBM akan berdampak
sangat jelas di masyarakat, apalagi masalah transportasi massal yang
menggunakan BBM sebagai bahan

baku

utama dalam menjalankan mesinnya. Penangkapan ikan di laut oleh nelayan yang
menggunakan solar ini juga akan sangat terpukul dengan kenaikan yang sangat
sungguh signifikan ini. Padahal harga BBM yang mereka terima ternyata sudah di
tinggikan ketika di jual eceran ke mereka oleh para distributor yg tidak
bertanggung jawab.

 

Belum lagi minyak tanah yang
subsidinya paling besar, ketika naik semakin menambah jumlah orang-orang
miskin, padahal posisi sebelum naik sudah tidak miskin lagi eh malah ketika
kenaikan harga BBM jadi rakyat miskin.

 

Memang sebuah keputusan dilematis
dari pemerintah, tetapi buat apa dinaikkan, toh subsidi BBM sendiri dari
rencana anggaran APBN tidak sebesar subsidi2 yang lain.

 

Sebenarnya yang perlu diperbaiki
pemerintah saat ini adalah perbaikan kebijakan dalam bidang energi dan kesiapan
pemerintah dalam menghadapi kemandirian serta perubahan paradigma dalam
menyelesaikan masalah bangsa.

 

Kebijakan energi SBY-KALLA sangat
dipengaruhi oleh negara adidaya negerinya Paman SAM itu melalui IMF dan ADB
bahkan PBB mau menjajah kita secara ekonomi dan menggunakan kemampuan untuk
mengatur kita dan negara2 lain di dunia ketiga. Ini membuktikan konspirasi
mereka sudah menjadi darah dan daging di bangsa ini. Pemerintah tidak punya
sikap terhadap masalah ini, terlalu moderat terhadap kebijakan AS. Mengecam
tapi tanpa bukti.

 

Kebijakan harga minyak yang
kemaren hampir mencapai $70/barrel itu tidak lepas dari pengaruh pasar yang diatur
sama orang amrik

sana

.

 

Example aja nih, Exxon udah
mendapat bagian di Blok CEPU, salah satu perusahaan asal Amrik

sana

yang mencoba menjajah sumber energi

Indonesia

ini. Apa tidak ada
investor asing non amrik yang bisa membiayai pengelolaan minyak bumi kita? Tuh
banyak negara di

asia

udah makmur. Apa
semuanya harus diberikan ke amrik sono??? Udahlah kalo mau di embargo silahkan
aja kita masih bisa hidup koq…. Kuasa apa mereka, ingat ada 4JJ1 yang MAHA
KUASA. Weleh-weleh bangsaku semakin terjerumus dalam praktik konspirasi NEGARA
yang katanya membela HAM tetapi menjilat ludahnya sendiri.

 

Kebijakan tentang energi di

Indonesia

mestinya sudah ke arah energi alternatif, energi yang sangat berpotensi di
negara ini.banyak energi matahari (solar) tapi biaya mahal nih, menggunakan
ombak laut di daerah pantai yang mempunyai kekuatan super di Indonesia.
Penggunakan Biodisel, and Geo thermal, and juga bisa aja energi nuklir (Gak uah
kawaitr sama amrik sana kalo perlu siapkan BOM NUKLIR,heheh) tapi untuk energi nuklir
ini perlu sosialisasi ke masyarakat Indonesia supaya tidak terjadi salah pahal
nanti di kiranya kita menjadi Chernobyl ke-2.

 

Sudah saatnya mengurangi konsumsi
BBM dalam negeri, terutama oleh masyarakat disadarkan……. Karena dengan
mengurangi penggunaan BBM menyebabkan pasokan BBM kita akan tersedia banyak.
Tentunya sosialisasi dari pemerintah dituntut lagi ke masyarakat agar seluruh
lapisan masyarakat agar mengerti paham dan melaksanakannya.

 

Kebijakan pemerintah semestinya
sudah berfikir panjang untuk menggunakan transportasi massal non BBM dan
membatasi jumlah kendaraan (kalo bisa) atau mengharuskan mobil mewah
menggunakan premix… apakah pemerintah sudah berfikir itu/ apakah harus selalu
mematuhi perintah IMF??? Si pembuat keonaran DUNIA itu….. bak pahlawan berhati
busuk…. Musuh dalam selimut….

 

Resuffle tim ekonomi di kabinet
SBY. Itu solusi untuk menghindarkan bangsa ini dari ketergantungan Bank Dunia
atau IMF. Cari orang-orang yang berpola pikir ekonomi kerakyatan minimal lah… agar
kebijakan ini tidak dipengaruhi sama tuanku BUSH…

 

Masih banyak hal dan data2 yang
ini saya sampaikan tapi besok ada Prakt. Elka…….. Blum slesai lah.. hikz….

 

 

Bayang-bayang Orde Baru

Mahasiswa sebagai bagian dari sejarah perubah zaman (agent of change) telah menjadi sebuah dilema, ketika harus
memerankan fungsinya sebagai social
control
padahal mereka belum bisa mengontrol diri masing-masing, ketika
mereka diharapkan kekuatan dari mereka untuk membangun negara (iron stock) dan juga penggerak kekuatan
moral bangsa (moral force) tetapi
moral mahasiswa juga masih ditelantarkan. Keadaan ini terlihat akhir-akhir ini
lagi marak anarki dari gerakan yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa.

Seperti yang terjadi di Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar
pertikaian antara FISIP dan Fakultas Teknik yang mencoreng eksistensi mahasiswa,
dan tak lepas pikiran kita juga dari kampus ini juga 2 tahun lalu juga terjadi
di kampus yang sama pertikaian antara Fakultas MIPA dan Fakultas Teknik yang
disebabkan oleh Mahasiswa baru di satu Fakultas tersebut.

Memang di sisi lain kita mengakui pertikaian antara kumpulan mahasiswa
satu dengan kumpulan mahasiswa lain merupakan suatu kekuatan bagi mereka untuk
bersatu ataupun meningkatkan kebanggaan atau kumpulan itu baik itu karena satu
fakultas atau satu jurusan, karena dengan trigger dari luar atau ancaman dari
eksternal bisa memicu persatuan di
antara mereka. Tetapi perlu diketahui cara itu tidak selamanya benar untuk
dijalankan.

Kejadian-kejadian tersebut sebetulnya bermuara dari sistem organisasi
kampus yang tidak relevan dan tidak adanya konsistensi dalam mengatur
keberadaan organisasi di lingkungan kampus. Awal dari sebuah perubahan diawali
tidak lepas dari peran orde baru yang mengeluarkan keputusan Normalisasi
Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK) tahun 1980 dimana
organisasi kampus hanya bergerak di bidang keprofesian masing-masing sehingga
yang aktif dari himpunan-himpunan mahasiswa jurusan sedangkan organisasi
tingkat fakultas dan universitas dimatikan geraknya untuk mencegah mahasiswa
mengganggu jalannya pemerintahan sebagai alasan kuat mereka.

Walaupun akhir keputusan itu dicabut pada tahun 1998 di mana terjadi
sebuah perubahan yang dilakukan oleh mahasiswa yang sering kita sebut sebagia
awal dari reformasi. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) bisa terbentuk lagi yang
tetap menyuarakan suara mahasiswa untuk tetap kritis dan menjadi oposisi
pemerintah.

Kemudian di beberapa universitas terbentuknya Badan Eksekutif baik itu di
masing-masing Fakultas ataupun di Universitasnya langsung, tetapi itu sesuai
dengan karakteristik masing-masing Universitas seperti di Unhas tidak ada BEM
yang menwadahi satu Universitas hanya berupa BEM di tingkat Fakultas, atau
cuman beberapa fakultas saja yang mau bergabung untuk membentuk BEM
se-universitas. Itulah salah satu penyebab terjadinya pertikaian antar Fakultas
karena terdorong oleh kebanggaan masing-masing Fakultas yang menganggap mereka
sendiri baik sedangkan Fakultas lain dianggap rendah.

Inilah salah satu yang menyebabkan pertikaian di antara Fakultas/jurusan
itu, seandainya ada satu wadah di dalam universitas itu misalnya BEM se-universitas
yang fungsionarisnya dari semua jurusan/fakultas setidaknya mewakili aspirasi
masing-masing jurusan/fakultas jadi tidak sampai terjadi pertikaian antara
Fakultas atau Jurusan yang tidak diinginkan. Ketika dalam satu komunitas
mahasiswa mampu bekerja sama dalam melaksanakan suatu kegiatan yang elemennya
dari berbagai jurusan, alangkah indahnya sebuah kerja sama, sehingga BEM itu
nantinya menjadi tolok punggung keberhasilan dalam menyamakan ataupun
menyatukan pendapat dari mahasiswa-mahasiswa semua jurusan.

Mungkin saja dari beberapa universitas masih trauma atau masih
mempertahankan kebanggaan fakultas atau jurusan masing-masing sehingga dengan
keluarnya keputusan tentang NKK/BKK dicabut mereka masih menggunakan cara lama
atau semi lama sehingga masih mempertahankan arogansi komunitas mahasiswa
masing-masing tersebut.

Peran dari pihak birokrat juga harus mewadahi untuk membuat persatuan
organisasi di antara mahasiswa-mahasiswanya, peran serta ini akan menumbuhkan
jiwa kebersamaan dalam satu lingkup institusinya. Walaupun cara ini tidak
sepenuhnya bisa menghindari aksi anarki dari mahasiswa tetapi setidaknya sudah
menghindari konflik internal institusi tersebut.

Peningkatan kesadaran dari masing-masing individu yang
benar-benar diperlukan dan peningkatan kompetensi mereka dalam bidang
masing-masing, sehingga mahasiswa menginterpretasikan peran dan fungsinya yang
sesungguhnya dan dapat mengaplikasinya dan tidak sekedar kata dan aksi anarkis