Archive for April, 2006

Sineas Muda Berkumpul di FFI PIMITS 9

Setelah diadakannya Kompetisi Film Indie Nasional, panitia ITS juga
menggelar acara Festival Film Indie (FFI) sebagai ajang pamer karya
sineas muda pada Selasa (25/4) kemarin. Tidak kurang dari 18 karya
terpilih yang diputar dalam acara yang bertempat di Grha ITS ini.
Konsep acaranya yang unik menjadi faktor utama suksesnya acara ini
diselenggarakan
——————————————————————————————————————-
Grha ITS, ITS Online - FFI yang menjadi bagian dari
rangkaian kegiatan PIMITS 9 kali ini menampilkan konsep acara yang
cukup unik. Hal itu terlihat dari desain ruangan yang dipakai yakni
layaknya barak darurat militer. Bentangan kain yang didominasi warna
hitam menjadi tenda yang cukup besar untuk menampung puluhan peserta
yang hadir.

Dijelaskan oleh Asruldin Azis sebagai ketua panitia
bahwa konsep ruangan ini dipakai karena ruang utama Grha ITS yang cukup
terang sehingga tidak kondusif untuk diadakan acara pemutaran film.
Diakui oleh Reni, salah satu peserta yang hadir bahwa konsep ruangan
pemutaran film ini cukup unik. “Sayangnya di dalam panas banget,” ujar Reni menjelaskan.

Yang
diputar dalam acara ini merupakan film yang telah mengikuti Kompetisi
Film Indie Nasional. Asrul menjelaskan bahwa dari 32 sineas yang
mendaftar hanya 23 peserta yang mengumpulkan karyanya. Dari 23 film itu
hanya 18 yang diputar pada festival yang dimulai sejak jam sepuluh pagi
ini. Rata-rata durasi untuk sebuah film berkisar antara 10 hingga 15
menit.

Dan tidak hanya dari ITS saja, banyak juga peserta yang
berasal dari luar ITS. Dalam catatan panitia, hampir separuh karya yang
dikirimkan menrupakan karya mahasiswa ITS sendiri. Contoh saja film
Setetes Embun Di Pagi Hari dan Traumatic karya mahasiwa Despro ITS.
Sebagian dari karya tersebut merupakan karya dari mahasiswa Unair, IKJ,
dan UGM.

Uniknya beberapa karya ternyata diproduksi oleh siswa
SMA yakni SMA 5 Surabaya, SMA 3 Sidoarjo, dan SMA 1 Krembung. Siswa SMA
3 Sidoarjo Selasa (25/4) itu terlihat mengajak sebagian krunya untuk
menghadiri pemutaran filmnya dalam Festival Film Indie ini. Aulia,
salah satu pemeran dalam film produksi SMA 3 Sidoarjo, mengaku banyak
mendapatkan hambatan saat melakukan proses produksi film. “Kita hanya pake alat seadanya, trus cuaca yang gak cerah juga sempat bikin
kami putus asa,” ujar siswi kelas satu yang aktif di kegiatan teater
sekolah ini. Film karya siswa SMA 3 Sidoarjo ini melibatkan lebih dari
20 orang dengan pengambilan gambar yang relatif cepat. “Pengambilan
gambar film ini cuma tiga hari saja,” terang Riska, salah satu kru
produksi.

Nantinya, dari sekian banyak film akan diambil
pemenang yang dibagi pada enam kategori yaitu Film Favorit, Skenario
Terbaik, Sutradara Terpuji, Penata Musik Terpuji, Sinematografi
Terpuji, dan Editing Terbaik. Hadiah yang ditawarkan panitia
pun tidak sedikit yakni total berjumlah tujuh juta rupiah. Untuk
melakukan penjurian, panitia menunjuk beberapa praktisi dan akademisi
untuk menjamin proses penjurian berjalan obyektif. Juri-juri tersebuat
adalah Sartono Adhi yang merupakan salah satu staff pengajar pada
Komunikasi UK Petra, Don Ariadian yang merupakan praktisi dari sebuah
publishing house, dan Julivar M Junus yang juga seorang praktisi
perfilman.

Setelah semua film diputar, acara FFI ini
diramaikan oleh penampilan band indie Alpha November yang menyanyikan
beberapa lagu. Band yang mengusung musik bernuansa britpop ini
membawakan single mereka Indera Keenam dan lagu I Will Fly dari Ten 2
Five. Diakhir penampilan mereka menghadirkan lagu dari Iwan Fals yang
berjudul Pesawat Tempur. Asrul pun mengaku puas dengan diadakannya
acara ini, baginya acara apresiasi terhadap film indie harus sering
diadakan. “Ini semua untuk memajukan industri perfilman Indonesia dalam
mencari sineas-sineas muda berbakat,” tegas Asrul.(ap/ftr)