Kampanye Terakhir Capres BEM Berlangsung Panas
Kampanye putaran terakhir untuk pemilihan presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kamis (4/5) kemarin berlangsung panas. Kampanye yang dilangsungkan di Kantin Pusat ITS tersebut dihadiri ratusan mahasiswa. Kampanye semakin seru saat memasuki sesi tanya jawab. Bahkan, di akhir kampanye seorang penonton mengajukan surat kontrak politik kepada para calon. |
Kantin Pusat, ITS Online - Dimulai sekitar pukul 09.00
pagi, kampanye putaran terakhir para calon presiden BEM ITS digelar di
Kantin pusat ITS. Setelah kurang lebih selama satu jam keenam calon
memaparkan visi dan misinya, mereka menjawab berbagai pertanyaan yang
diajukan para penanya dari kalangan mahasiswa. Kampanye yang
berlangsung panas tersebut dihadiri ratusan calon pemilih dari kalangan
mahasiswa.
Pertanyaan yang diajukan bervariasi. Mardi, salah
seorang pengunjung yang juga merupakan salah satu kandidat presiden BEM
tahun lalu mengajukan pertanyaan kepada para calon. "Di ITS ini
sekarang ada sekelompok mahasiswa yang menjadi relawan mahasiswa
pemberantas maksiat. Bagaimana tanggapan anda terhadap relawan ini,
karena jujur saya agak terganggu juga dengan aktifitas mereka,yang
cenderung mengganggu privasi orang. Saya rasa banyak yang kurang adil
dalam hal ini, masa yang dicurigai cuma laki-laki dan perempuan saja,
kan bisa jadi sesama lelaki ada maksiat," tanya Mardi kepada para
kandidat.
Dari keenam calon, Danang Rakatungga, salah satu calon
yang mendapat nomer urut dua menyatakan kurang setuju dengan relawan
tersebut. Menurutnya, dengan adanya aktifitas tersebut, aktifitas
ormawa seakan terkekang. "Bagaimana tidak terkekang, kalau ada
mahasiswi yang keluar malam harus diawasi, mereka di kampus sampai
malam kan nggak mesti maksiat. Bisa jadi mereka rapat, diskusi, dan
sebagainya," ujar Danang.
Sementara kelima calon lainnya
menyatakan setuju dengan adanya relawan tersebut. "Selama aktifitas
mahasiswa di dalam kampus tidak mengarah ke tindak asusila, tentunya
relawan ini juga tak akan menangkap mereka. Tentunya relawan ini
mempunyai beberapa kriteria khusus terhadap calon mereka, nggak asal
nangkap aja," ujar Detak Yan Pratama.
Senada dengan Detak, Rio
Muhammad juga menyatakan setuju dengan keberadaan relawan berantas
maksiat. "Saya juga pernah turun bersama mereka, dan dalam beroperasi,
relawan ini juga tak sembarangan. Mereka dilengkapi SK Rektor,
didampingi SKK, dan ada aturan yang mereka terapkan," ungkap Rio.
Pendapat Asruldin Azis, Nuchan, dan Dhirayanti juga tak jauh beda
dengan kedua calon lainnya yang menyatakan setuju dengan relawan
berantas maksiat.
Dia akhir sesi tanya jawab, Dewi, salah
seorang penanya mengajukan surat kontrak politik kepada para kandidat.
Kontan saja ini membuat suasana semakin hemuruh. Mahasiswi Kimia
angkatan 2002 tersebut mengatakan bahwa dalam kontrak politik tersebut
berisi janji-janji para kandidat. "Ini adalah kumpulan janji-janji anda
selama kampanye. Saya tak akan memaksa anda menandatangai surat ini,
saya hanya ingin tahu apakah anda masih konsisten dengan janji anda
ataukah anda sudah lupa," ujar Dewi.
Dari enam calon, tiga orang
calon menyatakan menolak menandatangani kontrak politik tersebut.
Mereka yang menyatakan menolak adalah Detak Yan Pratama, Asruldin Azis,
dan Rio Muhammad. Sementara ketiga calon lainnya bersedia
menandatangani kontrak politik yang diajukan mahasiswi yang juga Ketua
Himpunan Mahasiswa Kimia tersebut. Salah seorang kandidat yang
menyatakan menolak, Detak Yan Pratama, mengaku dalam kontrak politik
tersebut ada beberapa hal yang tidak pernah ia sampaikan dalam
kampanye. Sehingga dirinya tak merasa mempunyai kewajiban untuk
menandatangani kontrak politik tersebut.
Kampaye lisan ini
merupakan bagian terakhir dalam masa kampanye kandidat presiden BEM
ITS. Jadwal kampanye sendiri rencananya akan ditutup Jumat (5/4) malam
tepat pukul 24.00. (jie/rif)
Comments(0)