Archive for November, 2006

Peringkat SMU 1-50

hehehe berdasarkan search engine…. ku dapat data ini…
sori yang hanya adalah IPA coz skulku cuman Kelasnya kelas IPA doang


DAFTAR SMU NEGERI DAN SWASTA - Program Studi IPA

Peringkat Nasional 1 s/d 50 Berdasarkan hasil EBTANAS SMU/MA

1.  SMU KRISTEN I PENABUR
2.  SMU INSAN CENDEKIA
3.  SMUN 2 MODAL BANGSA KUTA BARO
4.  SMU KRISTEN 3 PENABUR
5.  SMU SANTA URSULA
6.  SMU ALOYSIUS 1 BANDUNG
7.  SMU KRISTEN BPK 1 PNB BANDUNG
8.  SMU ST. URSULA II
9.  SMU NEGERI 8
10.  SMU Negeri 1 Padang Panjang
11.  SMU Taruna Nusantara
12.  SMU KRISTEN 5 BPK PENABUR
13.  SMU ST ANGELA BANDUNG
14.  SMUN 2 TINGGIMONCONG (ini sekolahku……. lumayan peringkat 14)
15.  SMU KANISIUS
16.  SMU NEGERI 1 SIDOARJO
17.  SMU DON BOSCO II
18.  SMU N 2 AMLAPURA
19.  SMU SANG TIMUR
20.  SMU Kolese Loyola
21.  SMU TARUNA BUMI KHATULISTIWA
22.  SMU NEGERI 1 GENTENG
23.  SMU KRISTEN BARANA
24.  SMU Negeri 1 Yogyakarta
25.  SMU SWASTA TITIAN TERAS
26.  SMU NEGERI 12 
27.  SMU YOS SUDARSO
28.  SMU TRINITAS BANDUNG
29.  SMU Negeri 1 Bukittinggi
30.  SMU SANTA THERESIA
31.  SMU TARUNA DRA. ZULAEHA
32.  SMU FONS VITAE I
33.  SMU K KALAM KUDUS 2
34.  SMU NEGERI 1 GIANYAR
35.  SMU NEGERI 81
36.  SMU KRISTEN KARUNIA
37.  SMU Negeri 3 Yogyakarta
38.  SMU N 1 Klaten
39.  SMU NEGERI 5 SURABAYA
40.  SMU ALOYSIUS 2 BANDUNG
41.  SMU KRISTEN 4 PENABUR
42.  SMU KRISTEN BINA BAKTI 2
43.  SMU N 1 Pati
44.  SMU DWI WARNA
45.  SMU Negeri 4 Bukittinggi
46.  SMU NEGERI 1 TUBAN
47.  SMU PELITA HARAPAN
48.  SMU NEGERI 78
49.  SMU NEGERI 1 SEMARAPURA

HPku hilang

Untuk sementara karena HPku hilang, so sy ndak bisa dihubungi pake hp…

sy bisa dihubungi lewat telpon kost, email,fs, dll… atau datang aja langsung ke lab B-103, sekret BEM ITS, atau blok U-151…. atau cari sy disekitaran elektro…

just… find e there

thx for attention

-arul-

BLOG ku yang aktif….

Karena pertimbangan satu dan lain hal….
BLOG ku yang aktif…. adalah

1. asruldinazis.wordpress.com

dan

2. antitrush.blogdrive.com

ok.. thx

best regard

ARUL

Fasilitas Mudik Mahasiswa, Bagus Tuh! (Pikiran Rakyat)


Wah namaku ditulis pake nama bapakku… hehehe…..

—————————————————————————————————————

SUDAH 4 kali Lebaran dilewatkan Warry di Bandung. Itu berarti
              hampir selama masa kuliahnya, Warry tak menghabiskan saat Lebaran di kampung halamannya,
              Kalimantan. Harga tiket pesawat yang cukup mahal, mau tak mau membuatnya harus menahan
              kerinduan pada keluarganya. ”Paling komunikasi lewat telefon saja,” katanya
              kepada Kampus.

 

Warry tak mudik juga sebagai bentuk penghematan pengeluaran uang. Maklum, ia
            mencari uang sendiri untuk berbagai kebutuhannya. Daripada pulang saat Lebaran, yang
            menurutnya waktu liburnya sempit, ia lebih memilih pulang saat libur panjang alih
            semester.

 

Menurut mahasiswa ITB angkatan 2002 ini, manusiawi kalau timbul perasaan rindu karena
            tak bisa berlebaran bersama keluarga. Tapi itu lama-lama dianggapnya sebagai hal lumrah
            dalam dinamika kehidupan anak rantau dengan keuangan terbatas.

 

Irfan, mahasiswa Unpad angkatan 2003, juga salah seorang yang pernah tak mudik karena
            tak punya ongkos. Itu terjadi tahun lalu, ketika uang yang dimilikinya benar-benar ngepas
            untuk kebutuhan sehari-hari.

 

Dirinya mengaku sempat menitikkan air mata saat malam takbiran hanya sendirian di kamar kos. ”Tapi, tahun ini saya sudah menyiapkan dananya,” katanya senang.

 

Mudik Lebaran memang salah satu kegiatan istimewa sekaligus fenomena menarik, khususnya
            di Indonesia. Rasanya kurang afdal kalau tak bersama keluarga di hari raya. Tak heran
            banyak orang rela bela-belain melakukan berbagai hal demi mudik.

 

Beberapa perusahaan tak ketinggalan turut berpartisipasi sebagai fasilitator dalam
            kegiatan istimewa ini. Sebut saja Sido Muncul, yang sudah 15 kali menyelenggarakan mudik
            gratis untuk para penjual jamu. Tak tanggung-tanggung, pesertanya bisa belasan ribu orang.
            Ada juga Indofood yang sudah sembilan kali memfasilitasi mudik para pedagang indomie
            rebus.

 

Bagi perusahaan, kegiatan itu merupakan bentuk kepedulian dalam memberi kenyamanan
            mudik, pada mereka yang selama ini telah menjadi mitra kerja. Tentunya langkah ini bisa
            sekaligus menaikkan citra di mata publik. Bagaimana dengan kampus, mungkinkah menyediakan
            fasilitas mudik murah?

 

Meski bakal membantu mahasiswa yang ingin mudik namun terhambat masalah ekonomi, boleh
            jadi kebijakan ini belum jadi skala prioritas para pejabat kampus. ”Bagus tuh
            kalau ada. Tapi boro-boro kali ya. Selama ini kalau ngajuin proposal permohonan
            dana kegiatan juga suka susah,” kata Ria, mahasiswa Itenas asal Bali.

 

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, mungkin bisa jadi contoh dalam hal
            menggelar fasilitas mudik mahasiswa ke kawasan Jawa Timur. Ini dilakukan BEM-nya, yang
            juga didukung pihak rektorat dan alumni. Bagi para pengurus BEM ITS, dampak kenaikan BBM
            tidak hanya disikapi dengan demonstrasi, tapi juga aksi nyata dengan memberi fasilitas
            mudik murah berupa beberapa armada bus, sampai setengah harga tiket resmi.

 

”Tahun ini ketiga kalinya. Biasanya saat pemberangkatan dilepas wali kota. Tahun
            ini akan dilepas gubernur,” kata Aziz, Menteri Humas BEM ITS, saat dihubungi lewat
            telefon.

 

Menurut Yusuf Dogar, mahasiswa UIN Yogyakarta yang juga Ketua Asrama Kujang, Jawa Barat
            di Yogyakarta, kampus sebenarnya bisa saja menyelenggarakan program seperti itu.
            ”Gandeng saja perusahaan yang produknya dekat dengan mahasiswa untuk menjadi
            sponsor,” katanya.

 

Adang Surachman, Wakil Rektorat ITB bidang akademik, saat diminta pendapatnya,
            mengatakan, sebenarnya mungkin saja pihak kampus menggelar program semacam mudik murah
            untuk mahasiswa. ”Tapi sepertinya belum ada permintaan ke arah sana,” katanya.
            ***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

Bu ida (e-1) said…………… (padahal ku e-43 jau …)

Kita di dalam itu harus solid…
kita di luar itu sikut-sikutan dengan yang lain…
komunitas kita dijatuhkan….
padahal kita punya kemampuan lebih dibanding yang lain

(I dont know its about election of rector, about what the ITS future, or bout student….)

its about politicsm………

luqman mahfoed(dirut medco) said…

Saatnya itu kita bersatu… dan solid…. ITS itu besar….
keakraban itu muncul dengan adanya kebersamaan…
(tapi jangan2 bawa nama pengjkaderan hehee pak jaz ketawa nih…)

one day in shangriLa…. lunch … oi….

Kristiono said ……..

sekarang saatnya mahasiswa cepat lulus coz supaya segera mendapatkan banyak pengalaman di luar sana… yang lebih banyak lagi dan bisa lebih lama mendapatkan pengalaman2 itu…

I’am so ..glad….

oh.. ternyata…. ada benarnya juga sih… kalo kita terlalu banyak jadi aktivis di dalam ternyata tidak berbuah apa2… tetapi pengalaman di luar yangjuga sangat menentukan….

one the night … in heroes day…..

Ya Allah, Kapan Aku Mengangkat Koperku Sendiri…?

Saat itu adalah bulan Muharram tahun 1424 H. Seorang  pria bernama Mamat yang bekerja di Bandara  Soekarno-Hatta sedang sibuk mengangkat koper-koper  penumpang. Koper bukan sembarang koper. Semua koper  yang baru saja dibongkar dari pesawat Saudia Airlines  itu memiliki kesamaan; berbentuk besar, berwarna biru  tua dan bertuliskan nama pemilik, nomer kloter dan  asal kota. Koper-koper tersebut adalah milik jemaah  haji yang baru saja selesai menunaikan ibadah haji di  Tanah Suci pada tahun itu.

Setiap kali mengangkat satu koper, Mamat selalu  membaca basmalah dan shalawat kepada Rasulullah Saw.  Sudah berpuluh koper yang ia angkat, hingga rasa itu  muncul di dadanya. Pada kali selanjutnya, tatkala  tangannya menggamit pegangan koper, ia sempat membaca  doa kecil kepada Allah Sang Penguasa alam di dalam  hatinya, "Ya Allah, kapan saya mengangkat koperku  sendiri seperti ini…?!" Sebenarnya yang ia maksud  adalah ia begitu berharap dapat berangkat haji ke  Baitullah.   

Rupanya Allah mendengar jeritan hati Mamat. Hanya  selang 4 bulan saja, Subhanallah, namanya keluar  sebagai salah seorang dari 17 orang pegawai yang  mendapatkan jatah naik haji tahun itu atas biaya  kantor. Mamat pun amat bersyukur kepada Allah Ta’ala  karenanya.  Namun kebahagiaan ini tidak serta-merta membuat Mamat  puas hati. Ia tahu bahwa berita ini boleh jadi akan  membuat Iis, istrinya bersedih. Sebab hanya dia saja  yang dapat berangkat naik haji, padahal mereka berdua  selalu berdoa kepada Allah Swt agar dapat berangkat  naik haji bersama-sama.  Maka tatkala menyampaikan berita ini pun, Mamat amat  hati-hati dalam mengemasnya. "Semoga tidak ada bahasa  yang terpeleset dan melukai hati", itulah harapan  Mamat.

"Is…. Akang minta maaf ya sama kamu…" Mamat  mencoba membuka percakapan dengan meminta maaf  terlebih dahulu. "Emangnya ada apa, Kang?" sang istri  bertanya. "Akang ingin beritahukan sesuatu ke kamu,  tapi kamu jangan marah ya… apalagi sedih…?" sambut  Mamat. Kalimat itu membuat Iis menjadi gelisah. Ia  coba tenangkan hati untuk mendengar berita gak enak  ini. Mamat pun kemudian menyambung kalimatnya dengan  nada hati-hati, "Is… Akang hari ini mendapat  kejutan. Akang terpilih menjadi salah satu karyawan  yang akan diberangkatkan haji oleh kantor…" 

"Alhamdulillah. …!!!" Iis berteriak kegirangan. Ia langsung melompat ke arah Mamat suaminya dan memeluknya dengan erat. Dengan bersemangat Iis berkata, "Kirain berita sedih…! Berita bagus kayak begini kok dibawa sedih kayak begitu Kang? Iis ikut senang ngedengernya! " "Ya… emang sebenarnya ini adalah berita gembira, cuma yang bikin Akang takut membuat kamu sedih adalah karena Akang gak punya duit untuk ngeberangkatin kamu, Is! Akang khan cuma pegawai kecil seperti kamu tahu… Kalau saja, duit itu ada, tentu Akang akan ajak kamu juga untuk berhaji ke rumah Allah!" Iis lalu mengerti kegundahan yang berkecamuk dalam hati suaminya. Sambil tersenyum, Iis berujar, "Udah kang gak usah dipikirin, Iis rela melepas Akang naik haji. Tapi jangan lupa doain Iis ya biar cepat nyusul!" Akhirnya, apa yang dikhawatirkan Mamat tentang perasaan istrinya pun tidak berlaku. Sekali lagi Mamat bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla karenanya.

Hari itu adalah jadwal Mamat untuk berangkat haji.  Seperti kebiasaan orang kampungnya, maka kepergian  Mamat diantar dengan adzan dan iqamat. Pembacaan  shalawat dustur yang dikumandangkan oleh seorang   ustadz pun membuat semua orang haru meneteskan air  mata. Saat itulah, Mamat berpamitan dengan menyalami  serta merangkul orang-orang yang ia kenal seraya  meminta restu. Semua anggota keluarga, kerabat,  tetangga, sanak famili menghadiri acara itu. Semuanya  sudah bersalaman dan berangkulan dengan Mamat. Hingga  saat Mamat hendak naik ke atas kendaraan, saat itulah  tiba giliran Iis mencium punggung telapak tangan suaminya dan suasana haru pun tercipta. Air mata  suami-istri itu pun jatuh membasahi bumi. Saat mereka berdua berpelukan, Iis berucap, "Kang Mamat….,  jangan lupa untuk doain Iis ya di Baitullah… panggil-panggil nama Iis di sana. Insya Allah, Iis dan anak-anak ikhlas ngelepas Akang. Semoga kita semua, dengan doa kang Mamat, bisa nyusul berangkat haji bareng-bareng. ..!" Tak kuasa Mamat menahan tangis. Pelukan itu makin ia pererat. Ia hanya mampu mengucapkan kata ‘Amien’. 

Dalam hati, Mamat berucap agar Allah Swt juga berkenan mengajak istri dan anak-anaknya untuk berhaji seperti dia. Di dalam kendaraan Mamat masih sempat berdoa kepada Allah Swt untuk keluarga yang ia tinggalkan: ALLAHUMMA ANTAS SHAHIBU FIS SAFAR, WAL KHALIFATU FIL AHLI. HR. Muslim "Ya Allah, Engkau adalah pendampingku dalam perjalanan. Engkau juga yang menggantikan aku untuk menjaga keluarga yang ditinggalkan. .. Amien" HR. Muslim.

Usai membaca doa, ia pusatkan konsentrasinya untuk  khusyuk beribadah kepada Allah Swt. 42 hari Mamat menuntaskan semua ritual ibadah haji di  kota suci Mekkah Al Mukarramah dan Madinah Al  Munawwarah. Semuanya dijalani dengan begitu khusyuk  dan nikmat. Sesampainya di tanah air pun, ia langsung mendapatkan sebuah titel baru dari masyarakat. Kini ia dikenal dengan panggilan Haji Mamat di kampungnya.

Lepas 6 bulan setelah kepulangannya dari tanah suci.  Iis istrinya yang dulu sempat berucap ikhlas melepas  kepergian suaminya ke tanah suci, pagi itu ia  kelepasan berujar bahwa dirinya sebenarnya begitu  ingin juga berangkat ke tanah suci untuk berhaji.  Kalimat itu dituturkan dengan nada sedih yang  mengguncang hati Mamat. Kegundahan itu memang pernah  diduga sebelumnya oleh Mamat. Namun baru kali ini  kegundahan itu membuncah, dan tercetus lewat penuturan  akan kerinduan untuk datang ke rumah Allah Swt dalam  ritual haji. Muslim atau muslimah mana yang tidak mau  untuk berhaji?

Maka demi menghibur hati Iis, Mamat pun berujar  kepadanya, "Is… kamu memang berhak untuk berangkat  haji seperti orang lain, tapi Akang belum cukup punya  uang. Sekarang kita hanya mampu untuk berdoa kepada  Allah Swt…. Dia Maha Kuasa…. Jangankan minta  haji…. minta yang lebih dari itu Dia pun amat kuasa.  Nanti malam kita bangun ya untuk shalat tahajud…!  kata ustadz, doa pada sepertiga malam terakhir amat  dikabul. Nanti kita doa sama-sama untuk minta naik  haji. Insya Allah akan dikabulkan.. . percaya deh!"

Demikian ajakan Mamat kepada istrinya untuk melakukan  shalat tahajud dan berdoa bersama nanti malam. Dan  ajakan itu, disambut dengan anggukan kepala oleh Iis  tanda setuju.  Rupanya Mamat pulang dari kerja tidak seperti biasa.  Hari itu ia tiba di rumah lewat dari pukul 20.00 WIB.  Rupanya ada pekerjaan ekstra yang ia lakukan. Biasanya  Mamat sudah tiba di rumah pukul 5 sore. Mungkin, ada  pesawat lain yang tiba di luar jadwal, sehingga  beberapa kuli panggul seperti Mamat disiagakan untuk  bongkar muatan.

Mamat pulang dengan badan yang letih. Usai menjalani  shalat Isya, ia langsung rebahan di atas kasur dan  langsung tertidur. Rasa letih membuatnya lupa untuk  makan malam terlebih dahulu, atau menyapa keluarganya  yang masih menunggu  kedatangannya. Iis dapat memaklumi  hal itu. Tidak beberapa lama kemudian, Iis pun  menyusul tidur di atas ranjang bersama suaminya.  Seperti apa yang telah mereka janjikan, Iis terjaga  dan bangkit dari tidur pada pukul 3 pagi. Kemudian ia tepuk-tepuk kaki suaminya. Karena terlalu letih, Mamat tak sanggup untuk bangkit dan hanya berujar, "Ah…ah…! " tanda bahwa ia tak sanggup membuka mata. Iis langsung bangkit menuju kamar mandi. Usai berwudhu, ia kembali lagi ke kamar untuk bertahajud. Sajadah telah dibentangkan dan mukena pun telah ia kenakan. Sebelum melakukan shalat, untuk kedua kalinya Iis menepuk kaki Mamat agar ia bangun dan melakukan shalat tahajud bersama-sama. Sekali lagi, Mamat hanya mengeluarkan kata, "Ahh…ahh.. .!" Ia terlalu lelah untuk bangkit dan menyusul istrinya untuk bertahajud. Iis pun memaklumi. Raut wajah Mamat yang letih sudah mengabarkan bahwa ia terlalu lelah bekerja hari itu. Iis pun melapalkan takbiratul ihram tanda ia memulai shalat tahajud.

Begitu khusyuk shalat yang Iis dirikan, dan di atas  pembaringan Mamat pun menyaksikan sosok istrinya yang  bermukena sedang menjalankan shalat. Namun ia dalam  kondisi antara tidur dan terjaga. Kata orang, ini  adalah tidur ayam. Tidur tak mau, bangun tak kuasa. Setiap gerakan shalat yang Iis lakukan selalu ia  iringi dengan tetesan air mata. Sungguh…, seolah  Allah Swt hadir menyambut kedatangan Iis dalam  keheningan malam itu. Hingga kedekatan dengan Sang  Maha Pencipta pun dapat dirasakan oleh Iis yang  menjalankan shalat tahajud.  Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Sudah satu jam  lebih Iis melakukan shalat dan dzikir kepada Allah Swt. Waktu telah menunjukkan pukul 4 lebih. Dan ia  berkeinginan untuk bermunajat kepada Allah Swt dalam  lantunan dan rangkaian doa yang ia bacakan.

"Allahumma, ya Allah… Izinkan hamba-Mu ini untuk dapat berhaji ke rumah-Mu. Mudahkan jalan hamba…. Lapangkanlah rezeki kami. Engkau Yang Maha Kuasa atas segalanya… . Berikan perkenanmu agar aku sanggup datang ke rumah-Mu untuk beribadah dan memakmurkannya. .. Dengarkan doaku dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu…!"

Dalam kesyahduan doa yang dibaca oleh Iis kepada  Tuhannya, rupanya Mamat pun sempat mengamini di dalam  hati tanpa sepatah kata pun terucap. Sungguh, malam  itu telah terbangun sebuah jalinan suci antara seorang  hamba dengan Allah Swt dalam rangkaian doa yang penuh  hikmat dan cita.  Adzan Shubuh mulai terdengar di beberapa masjid dan   mushalla. Untuk terakhir kali, Iis membangunkan Mamat  suaminya sambil berujar, "Pak Haji… ayo bangun! Malu  sama tetangga. Masa  sudah haji enggak shalat Shubuh  berjamaah? Ayo bangun, Kang….!"  Mamat pun bangkit. Berat sekali rasanya ia mengangkat  badan. Setelah berwudhu, ia pun mengenakan pakaian  yang bersih lalu berangkat menuju mushalla untuk  melaksanakan shalat Shubuh.  Mamat mengucapkan salam saat masuk kembali ke rumah.

Iis dan anak-anak pun sudah bangun semua. Inilah rumah  yang berkah. Semua sudah terjaga dan bangkit untuk  menyongsong hari yang indah. Mamat kemudian meminta  Iis membuatkan secangkir kopi untuknya. Kemudian  dengan tasbih di tangan, ia baru saja hendak  menempelkan pantatnya ke kursi sofa di ruangan depan.  Namun tiba-tiba hasratnya untuk duduk, dihentikan oleh  dering telfon yang berbunyi keras di pagi hari. Mamat  pun mengangkat gagang telfon.

"Assalamu’alaikum. …. ini dari mana dan mau bicara  dengan siapa?" Mamat membuka pembicaraan. "Mat… ini  teh Sulis, Iis ada nggak?" demikian suara di seberang  menjawab. Mamat pun tahu bahwa orang yang menelfon ini  rupanya adalah kakak iparnya sendiri. Tanpa berpikir  panjang, Mamat pun memanggil Iis yang saat itu sedang  hendak membuatkan kopi  untuknya.  Mamat kembali duduk di atas kursi sofa. Sementara Iis  duduk di lantai untuk menerima telfon. Baru saja Iis mengucapkan salam kepada teh Sulis, namun setelah itu tidak ada satu patah kata pun yang meluncur dari mulut Iis. Yang ada adalah deraian air mata dan kata, ‘iya Teh!’ berulang-ulang diucapkan.

Pembicaraan telfon di pagi hari itu sudah lebih dari  10 menit berlangsung. Melihat istrinya terus menangis,  Mamat menduga bahwa ada berita buruk yang terjadi  terhadap keluarga hingga pagi-pagi begini sudah  menelfon dan membuat istrinya menangis. Mamat mengira  bahwa ada salah seorang familinya berpulang kepangkuan  Ilahi.

Gagang telfon itu kemudian diletakkan Iis. Ia masih  sesenggukan menahan tangis. Iis mencoba mengangkat  wajah dan menghadap ke arah suaminya. Saat itu Mamat  mencoba menyelak dengan pertanyaan, "Siapa yang  meninggal, Is..?" Masih sesenggukan Iis menjawab, "Gak  ada yang meninggal, Kang!" "Lalu kenapa kamu menangis  kayak begitu, emangnya berita sedih apa yang  diceritain teh Sulis?" Mamat masih mengejar dengan  pertanyaan yang lebih menukik.

Saat itulah Iis menceritakan hal sebenarnya,  "Kang…., barusan teh Sulis bilang bahwa ia berniat  berangkat haji tahun ini. Kebetulan kang Andi suaminya  lagi banyak kerjaan. Kang Andi gak bisa nemenin….Teh Sulis tadi nanya saya, kamu khan belum berhaji,  mau gak saya ajak? Teh Sulis mau bayarin biaya haji  saya…. tapi saya disuruh minta izin dulu ke Akang.

Iis gak nyangka, Kang…. begitu cepat Allah menjawab  doa yang baru saja Iis sampaikan dalam tahajud.  Sekarang, pilihan mah ada di Akang. Jika Akang  izinkan, saya siap. Kalau Akang enggak izinin saya  juga ikhlas…!" Iis berhenti sejenak mengatur  nafasnya yang masih sesenggukan. Air mata itu masih  menetes tanda haru dan syukur atas doa yang Allah Swt  kabulkan. Sementara Mamat masih terdiam, terperangah  dan takjub atas kemurahan Tuhan.

Mamat langsung merangkul istrinya ke dalam dekapan.  Mamat berujar, "Kamu boleh berangkat haji untuk  beribadah dan nemenin teh Sulis. Akang ikhlas  mengizinkan kamu dan merawat anak-anak di rumah.  Silahkan kamu berhaji untuk melengkapi agama kamu,  Is!"

Keduanya masih berpelukan erat tanda haru dan syukur  atas nikmat Allah Swt yang tiada ternilai. Dalam  keharuan tersebut ternyata masih tersisa sebuah  penyesalan dalam dada Mamat yang kemudian terbersit di  hatinya, "Coba, saya ikut bangun tahajud dan berdoa  kepada Allah untuk minta haji. Mungkin bisa berangkat bareng-bareng juga kali ya….?!" Itulah kisah sepasang suami-istri hamba Allah Swt yang dimudahkan untuk berhaji ke Baitullah. Semoga Anda dan saya dapat menerima anugerah serupa. Amien!

"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak  menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu  mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan  kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. 2:185)

hubungan, INA BF 100, alumni ITS, menteri, dan aku……

aku adalah calon presidennya.. hehehehehe….

Friendsku sudah 1000 di Friendster….

Terhitung anton (biasa ku panggil bajuri jadi friendsku yang keseribu.. ) selamat yah….

Wekz….

Next Page »