Fasilitas Mudik Mahasiswa, Bagus Tuh! (Pikiran Rakyat)
Wah namaku ditulis pake nama bapakku… hehehe….. ————————————————————————————————————— SUDAH 4 kali Lebaran dilewatkan Warry di Bandung. Itu berarti
hampir selama masa kuliahnya, Warry tak menghabiskan saat Lebaran di kampung halamannya,
Kalimantan. Harga tiket pesawat yang cukup mahal, mau tak mau membuatnya harus menahan
kerinduan pada keluarganya. ”Paling komunikasi lewat telefon saja,” katanya
kepada Kampus.
Warry tak mudik juga sebagai bentuk penghematan pengeluaran uang. Maklum, ia
mencari uang sendiri untuk berbagai kebutuhannya. Daripada pulang saat Lebaran, yang
menurutnya waktu liburnya sempit, ia lebih memilih pulang saat libur panjang alih
semester.
Menurut mahasiswa ITB angkatan 2002 ini, manusiawi kalau timbul perasaan rindu karena
tak bisa berlebaran bersama keluarga. Tapi itu lama-lama dianggapnya sebagai hal lumrah
dalam dinamika kehidupan anak rantau dengan keuangan terbatas.
Irfan, mahasiswa Unpad angkatan 2003, juga salah seorang yang pernah tak mudik karena
tak punya ongkos. Itu terjadi tahun lalu, ketika uang yang dimilikinya benar-benar ngepas
untuk kebutuhan sehari-hari.
Dirinya mengaku sempat menitikkan air mata saat malam takbiran hanya sendirian di kamar kos. ”Tapi, tahun ini saya sudah menyiapkan dananya,” katanya senang.
Mudik Lebaran memang salah satu kegiatan istimewa sekaligus fenomena menarik, khususnya
di Indonesia. Rasanya kurang afdal kalau tak bersama keluarga di hari raya. Tak heran
banyak orang rela bela-belain melakukan berbagai hal demi mudik.
Beberapa perusahaan tak ketinggalan turut berpartisipasi sebagai fasilitator dalam
kegiatan istimewa ini. Sebut saja Sido Muncul, yang sudah 15 kali menyelenggarakan mudik
gratis untuk para penjual jamu. Tak tanggung-tanggung, pesertanya bisa belasan ribu orang.
Ada juga Indofood yang sudah sembilan kali memfasilitasi mudik para pedagang indomie
rebus.
Bagi perusahaan, kegiatan itu merupakan bentuk kepedulian dalam memberi kenyamanan
mudik, pada mereka yang selama ini telah menjadi mitra kerja. Tentunya langkah ini bisa
sekaligus menaikkan citra di mata publik. Bagaimana dengan kampus, mungkinkah menyediakan
fasilitas mudik murah?
Meski bakal membantu mahasiswa yang ingin mudik namun terhambat masalah ekonomi, boleh
jadi kebijakan ini belum jadi skala prioritas para pejabat kampus. ”Bagus tuh
kalau ada. Tapi boro-boro kali ya. Selama ini kalau ngajuin proposal permohonan
dana kegiatan juga suka susah,” kata Ria, mahasiswa Itenas asal Bali.
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, mungkin bisa jadi contoh dalam hal
menggelar fasilitas mudik mahasiswa ke kawasan Jawa Timur. Ini dilakukan BEM-nya, yang
juga didukung pihak rektorat dan alumni. Bagi para pengurus BEM ITS, dampak kenaikan BBM
tidak hanya disikapi dengan demonstrasi, tapi juga aksi nyata dengan memberi fasilitas
mudik murah berupa beberapa armada bus, sampai setengah harga tiket resmi.
”Tahun ini ketiga kalinya. Biasanya saat pemberangkatan dilepas wali kota. Tahun
ini akan dilepas gubernur,” kata Aziz, Menteri Humas BEM ITS, saat dihubungi lewat
telefon.
Menurut Yusuf Dogar, mahasiswa UIN Yogyakarta yang juga Ketua Asrama Kujang, Jawa Barat
di Yogyakarta, kampus sebenarnya bisa saja menyelenggarakan program seperti itu.
”Gandeng saja perusahaan yang produknya dekat dengan mahasiswa untuk menjadi
sponsor,” katanya.
Adang Surachman, Wakil Rektorat ITB bidang akademik, saat diminta pendapatnya,
mengatakan, sebenarnya mungkin saja pihak kampus menggelar program semacam mudik murah
untuk mahasiswa. ”Tapi sepertinya belum ada permintaan ke arah sana,” katanya.
***
dewi irma
kampus_pr@yahoo.com
makin bagus kalau mudik ggratis di kasih uang saku lagi.. hehehe apa iya mungkin?
wah kalo dikasih uang saku… gak mandiri laan….